Wanita memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam juga diperlakukan dengan begitu istimewa. Baik ia seorang ibu, istri, saudara, atau pun anak. Islam mengamini persamaan laki-laki dan perempuan dari sisi penciptaannya, yaitu sama-sama sebagai manusia yang memiliki kemuliaan dan keistimewaan dibandingkan dengan mahkluk lainnya. Rasulallah ` bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ’anhuma (w. 58 H):

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

”Sesungguhnya wanita adalah bagian dari laki-laki.”[1]

Menurut Ibnul Atsir Rahimahullah (w. 606 H) maksud wanita seperti laki-laki, seolah para wanita saudara bagi laki-laki, karena Hawa diciptakan dari Adam ‘Alaihissalam.”[2]

Peradaban jahiliyah menjadikan wanita terisolir dalam kegelapan sejati, terhina penuh penderitaan, dan reputasinya ternistakan. Di zaman jahiliyah, manakala ada bayi perempuan terlahir ke dunia sontak wajah bapaknya berubah dan bermuram durja, dan tidak sedikit di antara mereka yang langsung membunuhnya secara tragis di luar batas prikemanusiaan.

Dengan terbitnya fajar Islam maka tersingsinglah semua kabut kenistaan yang menyelimuti kaum hawa. Transpormasi jahiliyah menuju Islam tidak hanya melahirkan jaminan kelestarian hidup bagi wanita, akan tetapi Islam pun menganjurkan umatnya agar berbuat baik kepada mereka, dan memotivasi orang tua dengan dibebaskannya dari api neraka apabila bersabar dalam mendidik anak-anak perempuannya. Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma:

مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka”[3]

 

Rasulallah Shalallahu alaihi wasallam adalah teladan utama dalam berbuat baik kepada wanita, beliau punya jadwal khusus untuk bertemu dengan para wanita (shahabiyat) dalam rangka memberikan nasehat dan pelajaran sebagaimana beliau lakukan hal tersebut kepada para sahabatnya. Beliau juga sangat perhatian kepada istri-istrinya, dan tidak sungkan untuk membantu mereka dalam meneyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Seorang Mukhadhram[1] yang bernama Al-Aswad bin Yazid Rahimahullah(w. 74 H) bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma tentang kebiasaan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam
 apabila sedang berada di rumah maka ia Radhiyallahu ‘anhuma menjawab:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

Beliau senantiasa membantu pekerjaan rumah isterinya, apabila tiba waktu shalat, maka beliau bangkit untuk melaksanakan shalat”[2]

Karakteristik Wanita Salihah

Sememangnya ada banyak perbedaan antara wanita salihah sejati dengan wanita salihah berkamuflase. Berikut ini akan dipaparkan karakteristik wanita salihah idaman para peria shalihin.

Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Ketaatan adalah sinyal cinta terkuat, maka wanita salihah adalah wanita yang taat kepada Allah  dan Rasul-Nya. Imam Ibn Al-Qayyim Rahimahullah )w. 751 H) mengatakan, “cinta laksana pohon di hati, akarnya adalah ketundukan terhadap kekasih tercinta, tonggaknya adalah mengenalinya dengan segenap rasa. Rasa takut adalah rantinnya dan rasa malu adalah daunnya, sedangkan buahnya adalah ketaatan dan kepatuhan.”[3]

Apabila cinta seorang wanita kepada Allah ‘Azza wajalla telah bersemi di dalam hatinya maka ia akan semangat dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslimah; rajin shalatnya, sungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur’an, menghafal dan
mentadaburinya, giat dalam melaksanakan ibadah sunahnya, tidak berani mendahulukan perintah seseorang di atas perintah Allah‘Azza wajalla dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan ia akan berusaha berteman dengan wanita salihah lainnya.

Selalu Merasa Diawasi Allah (Murāqabah)

Wanita salihah merasa bahwa semua gerak-geriknya selalu diawasi oleh Allahk, sehingga ia mengekspresikan rasa malunya dengan cara tidak berbuat maksiat dan tidak menyelisihi perintah-Nya, dan selalu berusaha untuk mensucikan lahir dan batinnya.

Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. “Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi bersabda, “Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.[1]

Berjuang Melawan Perangkap Setan (Mujāhadatunnafs)

       Wanita salihah akan selalu berjuang melawan hawa napsunya demi menyempurnakan ketaatannya kepada Allah ‘Azza Wajalla. Salah satu kunci kesuksesan dalam melawan semua fatamorgana perangkap licik setan adalah dengan menginsapi sepenuhnya bahwa permusuhan setan dengan manusia adalah permusuhan yang abadi. Setan telah bersumpah untuk merayu bani adam dengan segala cara dan upaya, terkadang menggoda wanita yang sudah biasa memakai cadar untuk melepaskannya, atau mengganti hijabnya dengan penutup kepala yang menarik perhatian mata, dan dengan langkah-langkah lainnya yang bisa menggelincirkan kaum hawa dari jalan yang semestinya.

        Mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wajalla dengan melakasanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua lakarangan-Nya, juga bergaul dengan hamba-hamba-Nya yang salihah adalah cara efektif untuk melawan godaan setan yang terkutuk.

Menghiasi Diri dengan Iman dan Akhlak Mulia

          Wanita salihah akan berusaha untuk menghiasai dirinya dengan iman dan akhlak mulia, dengan menjaga lisan dan anggota badannya dari segala sesuatu yang dilarang dalam agama, membersihkan hatinya dari debu-debu maksiat, menjaga integritas dan niat yang tulus, serta meyakini rukun iman dengan sepenuh hati dan melaksanakan semua yang menjadi konsekwensi keimanannya.

          Melalui tulisan sederhana ini, jika anda seorang wanita mudah-mudahan anda akan menjadi wanita yang lebih salihah lagi, dan jika anda seorang peria bisa mengenal wanita salihah dan dianugerahinya; dianugerahi putri salihah apabila anda sebagai orangtua, istri yang salihah apabila anda seorang suami, dan calon istri yang salihah apabila anda seorang yang lagi mencari belahan jiwa pelabuhan cinta, āmīn.

__________

[1] HR. Ahmad 26195, Abu Daud 236, Turmudzi 113, dan dihasankan Syuaib
al-Arnauth. Syaikh al-Albani juga menilai hadis ini sebagai hadis shahih.

[2] Tuhfah al-Ahwadzi, 1/312.

[3] HR Muslim. 2629

[4] Seorang yang hidup di zaman Nabi ` dan masuk Islam akan tetapi belum sempat bertemu dengan beliau `.

[5] HR. Muslim. 876.

[6] Raudhatulmuhibbin, hlm. 409.

[7] HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935.

 

Ditulis oleh Ust. Anfalullah Abu Abdirrahman, Lc.,M.Pd.


Repost : https://almatuq.sch.id/salihah-bolehkah-aku-mengenalmu-2/